Siaran TV Bahaya Bagi Anak-Anak

10 07 2007

Hampir semua rumah tangga menengah keatas di Indonesia dipastikan memiliki pesawat televisi.Barang yang satu ini sekarang sudah dikategorikan bukan barang mewah lagi. Apalagi sejak satu dekade ini berbagai saluran televisi tumbuh menawarkan berbagai acara ini mampu menghibur masyarakat walaupun tak semua program yang ditawarkan bersifat mendidik.

APA BAHAYA MENONTON TV BAGI ANAK-ANAK?

Tidak hanya di Indonesia. Di negara maju seperti Amerika Serikat, pengaruh negatif menonton televisi bagi anak-anak sudah dalam taraf yang meng- khawatirkan. Apalagi AS termasuk negara yang saluran TVnya termasuk banyak.

Sebuah survey yang dilakukan oleh Annenberg Public Policy Center terhadap rumah tangga-rumah tangga di AS membuktikan bahwa rata-rata anak- anak di AS menghabiskan waktu mereka sebanyak 25 jam per minggu di depan layar gelas. Hal ini melampaui standart yang dianjurkan oleh American Academy of Pediatrics(AAP) . Pada tahun 1990 AAP menganjurkan agar anak-anak tidak menonton televisi lebih dari 2 jam per hari dan acara yang ditonton haruslah yang berkualitas. Namun bulan lalu AAP mengeluarkan peraturan yang lebih ketat lagi, anak-anak dibawah usia 2 tahun sebaiknya tidak menonton TV sama sekali dan anak-anak diatas usia tersebut sebaiknya tidak mempunyai pesawat televisi sendiri di kamar mereka. Bisa dibayangka memang kalau mereka asyik dengan pesawat TV masing-masing. Tidak ada interaksi dengan orang lain dan tidak ada waktu untuk bermain-main- dimana bermain adalah moment yang harus dimiliki bagi anak-anak di usia pertumbuhan.

Penelitian tersebut membuktikan bahwa televisi mempunyai pengaruh yang buruk terhadap perkembangan fisik dan mental anak. Bukan berarti semua acara televisi itu buruk. Acara-acara yang bersifat mendidik seperti Sesame Street atau Teletubbies dianjurkan untuk ditonton karena mempengaruhi anak secara positif. Karena bagaimanapun, menonton televisi terlalu banyak secara terus- menerus dan tidak memilah-milah acara yang baik, efeknya akan sangat buruk bagi perkembangan anak.

ADAKAH HUBUNGAN ANTARA MENONTON TV DENGAN PRESTASI SEKOLAH YANG BURUK?

Penelitian membuktikan bahwa anak-anak yang terlalu banyak menghabiskan waktu mereka didepan layar TV memiliki prestasi yang buruk di sekolah. Korelasiini sangat masuk akal bilamana diingat bahwa anak yang menonton televisi terus menerus akan mempunyai waktu yang lebih sedikit untuk berinteraksi dengan orang lain (teman atau orang-tuanya sendiri) dan yang lebih penting, HABIS WAKTU MEREKA UNTUK MEMBIKIN PR ATAU TUGAS LAIN yang diberikan oleh sekolah. Anak-anak akan menjadi lebih pasif dan tidak memiliki perhatian yang penuh terhadap pelajaran di sekolah. Hasilnya, anak-anak memiliki kesulitan untuk berkonsentrasi dan tidak berusaha keras untuk memecahkan masalah. Hanya sedikit acara-acara televisi yang mengajarkan anak hal-hal penting seperti berhitung, membaca, ilmu pengetahuan atau pemecahan masalah. Hampir semua acara TV memperlihatkan adegan-adegan yang tidak mendidik, termasuk juga film-film kartun.

Dalam banyak hal, acara TV memperlihatkan perilaku/tindakan negatif. Contoh yang paling gampang adalah TV memperlihatkan adegan-adegan kekerasan. Walaupun didisain untuk anak-anak namun sering kali acara tersebut tak luput dari adegan kekerasan. Dalam survey di rumah tangga-rumah tangga di AS mem- buktikan bahwa acara anak-anak mengandung 3-4 adegan kekerasan per acara. Jumlah ini termasuk tinggi. Penelitian juga membuktikan bahwa anak-anak cende- rung untuk meniru-niru adegan kekerasan atau perilaku anti sosial dari acara yang mereka lihat.

HUBUNGAN ANTARA ANAK YANG KEGEMUKAN DENGAN MENONTON TELEVISI

Adakah hubungan antara anak yang kegemukan dengan menonton TV? Ada. Di Amerika Serikat dikenal dengan sindrom ‘Couch Potato’, yaitu makan makanan ‘junk food’ yang diiklankan di TV sambil terpaku di depan layar gelas berjam- jam sehingga anak tak sempat lagi untuk melakukan aktivitas lain seperti bermain. Anak tak sempat lagi untuk menggerakkan tubuhnya yang menyebabkan hanya sedikit kalori yang terbuang sehingga badan mereka menjadi gemuk. Tiga penelitian terbaru membuktikan bahwa anak-anak yang kegemukan langsung berkurang beratnya setelah mengurangi kebiasaan menonton TV.

Juga menonton acara TV malam hari membuat mereka mengantuk pada keesokan hari- nya. Jika sudah begitu anak tak sempat lagi untuk berkonsentrasi di sekolah. Hal ini membuat prestasi mereka menjadi jelek di sekolah. Selain itu dapat mempengaruhi pola tidur mereka. Stress emosional yang disebabkan acara televisi membuat anak sulit tidur dan sering mimpi buruk.

BAGAIMANA DENGAN DI INDONESIA?

Sama saja. Pengaruh televisi belakangan ini makin menguat seiring dengan semaraknya dunia pertelevisian kita dan bebasnya arus informasi dari manca negara.Pengaruh TV tak terhindarkan lagi.

Anak-anak yang tinggal di kota-kota besar di Indonesia cenderung memiliki orang tua yang dua-duanya bekerja. Sering anak hanya tinggal seharian bersama pembantu atau pengasuh mereka.Pembantu atau pengasuh itu cenderung untuk me nonton acara TV yang mereka sukai seperti telenovela atau sinetron yang keba- nyakan menguras air mata dari pada mengesankan. Anak-anak yang tinggal bersama mereka itu tentu mau tak mau ikut menonton. Kalau tidakpun, anak-anak sekarang sudah lebih canggih. Mereka tahu bagaimana menyetel pesawat televisi dan memi- lih acara yang disukai.
Pengaruh adegan-adegan di telenovela dan sinetron yang tidak mendidik sering kali merasuk ke alam pikiran anak-anak yang masih putih bersih itu. Banyak keluarga.Org lihat anak-anak usia 4-5 tahun dengan fasihnya mengulang- ulang dialog di sinetron Indonesia -yang rata-rata dialog dalam sinetron itu bersifat dangkal dan cengeng. Atau menyanyikan soundtrack dari sinetron tersebut. Sepertinya terlihat lucu tetapi sesungguhnya menyedihkan. Mereka meniru-niru adegan yang seharusnya belum pantas buat mereka. Bahkan ada yang hafal nama-nama pemain sinetron, atau menceritakan gossip tentang seorang artis yang katanya baru putus pacar. Ketika ditanya darimana dia tahu, dia bilang lihat dari acara Check and Recheck! (acara gossip selebritis di RCTI). Ck…ck…ck…Satu lagi ada yang mengatakan ia ‘ngefans’berat dengan Dessy Ratnasari!! Anehnya ada orang tua yang ‘bangga’ melihat anaknya yang berumur Balita bertingkah ‘genit’ bak pemain sinetron Indonesia yang memainkan adegan yang tidak ‘real’buat kebanyakan masyarakat Indonesia.

Penyanyi-penyanyi cilik Indonesia pun dapat mempengaruhi perilaku anak. Tingkah polah penyanyi cilik seperti Maissy atau Joshua sering kali ditiru oleh ‘fans’mereka yang berusia cilik. Tak apa jika idola mereka bertingkah laku sesuai usia mereka seperti Joshua. Tetapi banyak juga penyanyi cilik kita yang berdandan, astaga, persis seperti tante-tante. Memakai stocking, make-up yang audzubillah tebalnya, baju renda-renda. Tetapi ketika menyanyi suara yang keluar masih cadel…! Kasihan.

Sumber : Aries Kelana (GATRA (Nomor 44/V, 18 September 1999)


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: